Selasa, 06 Mei 2014

Untuk Laki-laki Tinggi Besar

Hai Raksasa, apa kabar?
Masih Ingatkah denganku? Mantan Kekasihmu
Ah, kata yang kasar. Mari kita perlembut
Hai Raksasa, masih ingatkah denganku?
Gadis yang sangat mencintaimu!
Yang meneteskan air mata karenamu!
Yang rela menunggu kedatanganmu!
Yang tersakiti oleh masa lalumu!
Ah, maaf. Aku kelepasan
Hai Raksasa, bagaimana keadaan hidupmu?
Baik-baik sajakah? Atau sama denganku? Masih terjerat oleh pesonamu
Hai Raksasa, bagaimana hatimu?
Masih berbentuk normalkah? Atau seperti hatiku? Remuk tak berbentuk
Hai Raksasa, kali ini aku sedang berusaha mengenangmu sebagai raksasa yang paling tampan, raksasa yang baik hati, raksasa yang pandai mencuri cinta
Hai Raksasa, kau yang pernah aku akui sebagai raksasaku
Hai Raksasa, lihat aku masih menulis tentangmu

Sabtu, 03 Mei 2014

Jangan engkel-engkelan


Kau masih bertanya siapa yang bersalah?
Tentu saja aku
Kau masih mengelak dan memaksa untuk bersalah?
Tentu saja tidak bisa karena ini kebenarannya ;
Aku yang bersalah dan kau tidak tau apa-apa
Ah sudahlah, jangan seperti gadis begitu
Kau layaknya menukar kelaminmu denganku
Tidak malu kah dengan kejantananmu?
Hei, jangan lembek
Hus, jangan merengek
Kau buat aku jijik, berhenti sudah
Hentikan!
Jangan engkel-engkelan

Minggu, 20 April 2014

Aku-Kau

Aku adalah kau jika kau adalah aku
Kau adalah aku jika aku adalah kau
Adalah aku kau jika kau aku
Adalah kau aku jika aku kau
Aku kau adalah kau jika aku
Kau aku adalah aku jika kau
Aku adalah kau jika kau adalah aku
Kau adalah aku jika aku adalah kau
Bukan aku jika aku adalah aku
Bukan kau jika kau adalah kau


Aku-Kau

Rabu, 16 April 2014

Aku, jika kau

Aku mencinta tanpa keraguan
Layaknya ombak menerjang karang
Aku mencinta dengan kesetiaan
Layaknya sang surya menyinari dunia
Aku mencinta tanpa kecurigaan
Seperti bulan pada bumi atas banyaknya bintang di angkasa
Aku, jika kau mencintaku
Namun
Aku mencinta dengan pamrih
Aku mencintamu dengan tuntutan kau juga harus mencintaku
Aku adalah ombak, yang akan menerjangmu
Aku adalah sang surya, yang akan membiarkanmu termakan gelap
Aku adalah bulan, yang akan membuatmu lenyap dalam pasang
Aku, jika kau tidak mencintaku

Kamis, 10 April 2014

Cinta Hari Ini

Jika kau bertanya tentang cinta hari ini, bagaimana aku bisa mengeksplornya jika sampai saat ini aku belum mengetahui apa itu cinta
Bisakah kau beri aku referensi wahai pengagum kata cinta, agar aku mendapat ilham dari sana
Tapi apalah guna referensi yang kau beri tanpa arti yang dapat kau ungkap
Yang kudapat hanya kehambaran, juga pengetahuan kosakata saja
Bisakah berhenti untuk mengungkap kata yang tak kau ketahui makna sungguhnya?
Bisakah berhenti menjadi lembek hanya karena kata yang tak kau ketahui maknanya?
Jadilah lebih tegar dari semula
Jadilah mengeksplor kata yang mengisyaratkan makna disetiap hembus nafas
Persetanlah dengan cinta kemarin, hari ini, atau esok

Rabu, 09 April 2014

Mega Setia Rani

Namanya Mega Setia Rani
Panggil dia Rani
Dia teman masa kecilku, hingga aku meninggalkannya. Sendiri
Dia gadis kecil seusiaku
Dia yang terkuat dan terhebat
Jago berkelahi dan pandai mengayuh sepeda besar punya bapaknya
Rani mengajarkanku naik sepeda, hingga mendorongku jatuh
Karena itu aku bisa naik sepeda
Tidak ada yang bisa mengalahkannya, sekalipun lawannya laki-laki
Rani yang pemberani
Tiap petualangan masa kecilku adalah karena adanya
Goresan luka di lengan dan kakiku pun akibatnya
Oh, bukan dia
Tapi aku yang tak sekuat dia
Dia suka kena marah ibunya karena pulang sore bersamaku
Dia suka kena marah ibunya karena 'tak dapat nilai seratus sepertiku
Ibunya, dan orang tua lain tak tau Rani tidak perlu nilai seratus untuk menjadi hebat
Tiap tawaku hanya karenanya
Anak kecil dengan Rani yang ia sebut sebagai sahabatnya
Teringat hingga kini dia yang sering menjahili teman-teman
Dengan kasar melempar sepatunya kearah anak yang menggangguku
Rani, sebut saja dia pahlawanku
Hingga pada saat itu datang
Tiba-tiba ibuku berkata, ibu Rani meninggal
Aku berlari menuju rumahnya
Aku duduk disampingnya, diam saja
Kutatap matanya yang lurus menatap jenazah ibunya
Tatapan kosong, tanpa air mata
Rani
Sejak saat itu jarang kulihat Rani disekolah
Kata bapaknya Rani ada di sawah dan 'tak mau sekolah
Saat itu datang lagi
Aku harus pergi ke kota
Aku pindah rumah, meninggalkannya
Aku berontak untuk tinggal, apa daya anak sepertiku
Hari terakhirku
Aku menemui Rani dan berkata "Rani belajar ya, sekolah Ran. Nanti aku sering kesini"
Sejak saat itu, aku tak mendengar kabar baik darinya
Yang ku tahu dari kabar angin, Rani sekarang tak menjadi perempuan lagi
Hingga detik ini
Siang hari saat angin berhembus di loteng
Adzan berkumandang dengan lantang
Aku masih memikirkannya, berharap dia baik-baik saja
Semoga pesan yang kuantar lewat angin ini sampai kepadanya


Pasuruan, 10 April 2014
pada pukul 12.27 pm

Selasa, 25 Maret 2014

Saksi Mata

Hanya singkat cerita dari cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma, yang sedikit saya rombak.


Ia mengendap.
Seolah ia melihat rahasia besar, tak perlu disebutkan apa.
Namun jika terbongkar sebuah masalah besar bagi mereka.
Ia tertangkap oleh mata mereka.
Ia berlari mencoba meloloskan diri.
Namun tenaganya tak m,encukupi, ia terkejar. Tertangkap.
Dengan (sebenarnya tidak) terpaksa, mereka mengambil apa yang telah ia mengambil saksi dari apa yang mereka lakukan.
Mereka mencongkel matanya.
Yakin telah mati, mereka meninggalkannya tergeletak.
Namun mereka tak tau bahwa hanya gambar saja yang ditangkap dengan mata.
Dan kekuatan telah membangkitkannya, mencoba mengungkap apa yang ia telah saksikan.
Ia berjalan, dengan cucuran darah dari kelopak matanya.
Ia mencari keadilan yang biasa ditentukan oleh ketukan palu. Pengadilan.
Terungkap semua kejahatan mereka, mereka pun ditembak mati.
Ia.
Darah kering masih membalut wajahnya, ketika ia tersenyum dalam kematian sucinya.