Aku adalah kau jika kau adalah aku
Kau adalah aku jika aku adalah kau
Adalah aku kau jika kau aku
Adalah kau aku jika aku kau
Aku kau adalah kau jika aku
Kau aku adalah aku jika kau
Aku adalah kau jika kau adalah aku
Kau adalah aku jika aku adalah kau
Bukan aku jika aku adalah aku
Bukan kau jika kau adalah kau
Aku-Kau
Minggu, 20 April 2014
Rabu, 16 April 2014
Aku, jika kau
Aku mencinta tanpa keraguan
Layaknya ombak menerjang karang
Aku mencinta dengan kesetiaan
Layaknya sang surya menyinari dunia
Aku mencinta tanpa kecurigaan
Seperti bulan pada bumi atas banyaknya bintang di angkasa
Aku, jika kau mencintaku
Namun
Aku mencinta dengan pamrih
Aku mencintamu dengan tuntutan kau juga harus mencintaku
Aku adalah ombak, yang akan menerjangmu
Aku adalah sang surya, yang akan membiarkanmu termakan gelap
Aku adalah bulan, yang akan membuatmu lenyap dalam pasang
Aku, jika kau tidak mencintaku
Layaknya ombak menerjang karang
Aku mencinta dengan kesetiaan
Layaknya sang surya menyinari dunia
Aku mencinta tanpa kecurigaan
Seperti bulan pada bumi atas banyaknya bintang di angkasa
Aku, jika kau mencintaku
Namun
Aku mencinta dengan pamrih
Aku mencintamu dengan tuntutan kau juga harus mencintaku
Aku adalah ombak, yang akan menerjangmu
Aku adalah sang surya, yang akan membiarkanmu termakan gelap
Aku adalah bulan, yang akan membuatmu lenyap dalam pasang
Aku, jika kau tidak mencintaku
Kamis, 10 April 2014
Cinta Hari Ini
Jika kau bertanya tentang cinta hari ini, bagaimana aku bisa mengeksplornya jika sampai saat ini aku belum mengetahui apa itu cinta
Bisakah kau beri aku referensi wahai pengagum kata cinta, agar aku mendapat ilham dari sana
Tapi apalah guna referensi yang kau beri tanpa arti yang dapat kau ungkap
Yang kudapat hanya kehambaran, juga pengetahuan kosakata saja
Bisakah berhenti untuk mengungkap kata yang tak kau ketahui makna sungguhnya?
Bisakah berhenti menjadi lembek hanya karena kata yang tak kau ketahui maknanya?
Jadilah lebih tegar dari semula
Jadilah mengeksplor kata yang mengisyaratkan makna disetiap hembus nafas
Persetanlah dengan cinta kemarin, hari ini, atau esok
Bisakah kau beri aku referensi wahai pengagum kata cinta, agar aku mendapat ilham dari sana
Tapi apalah guna referensi yang kau beri tanpa arti yang dapat kau ungkap
Yang kudapat hanya kehambaran, juga pengetahuan kosakata saja
Bisakah berhenti untuk mengungkap kata yang tak kau ketahui makna sungguhnya?
Bisakah berhenti menjadi lembek hanya karena kata yang tak kau ketahui maknanya?
Jadilah lebih tegar dari semula
Jadilah mengeksplor kata yang mengisyaratkan makna disetiap hembus nafas
Persetanlah dengan cinta kemarin, hari ini, atau esok
Rabu, 09 April 2014
Mega Setia Rani
Namanya Mega Setia Rani
Panggil dia Rani
Dia teman masa kecilku, hingga aku meninggalkannya. Sendiri
Dia gadis kecil seusiaku
Dia yang terkuat dan terhebat
Jago berkelahi dan pandai mengayuh sepeda besar punya bapaknya
Rani mengajarkanku naik sepeda, hingga mendorongku jatuh
Karena itu aku bisa naik sepeda
Tidak ada yang bisa mengalahkannya, sekalipun lawannya laki-laki
Rani yang pemberani
Tiap petualangan masa kecilku adalah karena adanya
Goresan luka di lengan dan kakiku pun akibatnya
Oh, bukan dia
Tapi aku yang tak sekuat dia
Dia suka kena marah ibunya karena pulang sore bersamaku
Dia suka kena marah ibunya karena 'tak dapat nilai seratus sepertiku
Ibunya, dan orang tua lain tak tau Rani tidak perlu nilai seratus untuk menjadi hebat
Tiap tawaku hanya karenanya
Anak kecil dengan Rani yang ia sebut sebagai sahabatnya
Teringat hingga kini dia yang sering menjahili teman-teman
Dengan kasar melempar sepatunya kearah anak yang menggangguku
Rani, sebut saja dia pahlawanku
Hingga pada saat itu datang
Tiba-tiba ibuku berkata, ibu Rani meninggal
Aku berlari menuju rumahnya
Aku duduk disampingnya, diam saja
Kutatap matanya yang lurus menatap jenazah ibunya
Tatapan kosong, tanpa air mata
Rani
Sejak saat itu jarang kulihat Rani disekolah
Kata bapaknya Rani ada di sawah dan 'tak mau sekolah
Saat itu datang lagi
Aku harus pergi ke kota
Aku pindah rumah, meninggalkannya
Aku berontak untuk tinggal, apa daya anak sepertiku
Hari terakhirku
Aku menemui Rani dan berkata "Rani belajar ya, sekolah Ran. Nanti aku sering kesini"
Sejak saat itu, aku tak mendengar kabar baik darinya
Yang ku tahu dari kabar angin, Rani sekarang tak menjadi perempuan lagi
Hingga detik ini
Siang hari saat angin berhembus di loteng
Adzan berkumandang dengan lantang
Aku masih memikirkannya, berharap dia baik-baik saja
Semoga pesan yang kuantar lewat angin ini sampai kepadanya
Pasuruan, 10 April 2014
pada pukul 12.27 pm
Panggil dia Rani
Dia teman masa kecilku, hingga aku meninggalkannya. Sendiri
Dia gadis kecil seusiaku
Dia yang terkuat dan terhebat
Jago berkelahi dan pandai mengayuh sepeda besar punya bapaknya
Rani mengajarkanku naik sepeda, hingga mendorongku jatuh
Karena itu aku bisa naik sepeda
Tidak ada yang bisa mengalahkannya, sekalipun lawannya laki-laki
Rani yang pemberani
Tiap petualangan masa kecilku adalah karena adanya
Goresan luka di lengan dan kakiku pun akibatnya
Oh, bukan dia
Tapi aku yang tak sekuat dia
Dia suka kena marah ibunya karena pulang sore bersamaku
Dia suka kena marah ibunya karena 'tak dapat nilai seratus sepertiku
Ibunya, dan orang tua lain tak tau Rani tidak perlu nilai seratus untuk menjadi hebat
Tiap tawaku hanya karenanya
Anak kecil dengan Rani yang ia sebut sebagai sahabatnya
Teringat hingga kini dia yang sering menjahili teman-teman
Dengan kasar melempar sepatunya kearah anak yang menggangguku
Rani, sebut saja dia pahlawanku
Hingga pada saat itu datang
Tiba-tiba ibuku berkata, ibu Rani meninggal
Aku berlari menuju rumahnya
Aku duduk disampingnya, diam saja
Kutatap matanya yang lurus menatap jenazah ibunya
Tatapan kosong, tanpa air mata
Rani
Sejak saat itu jarang kulihat Rani disekolah
Kata bapaknya Rani ada di sawah dan 'tak mau sekolah
Saat itu datang lagi
Aku harus pergi ke kota
Aku pindah rumah, meninggalkannya
Aku berontak untuk tinggal, apa daya anak sepertiku
Hari terakhirku
Aku menemui Rani dan berkata "Rani belajar ya, sekolah Ran. Nanti aku sering kesini"
Sejak saat itu, aku tak mendengar kabar baik darinya
Yang ku tahu dari kabar angin, Rani sekarang tak menjadi perempuan lagi
Hingga detik ini
Siang hari saat angin berhembus di loteng
Adzan berkumandang dengan lantang
Aku masih memikirkannya, berharap dia baik-baik saja
Semoga pesan yang kuantar lewat angin ini sampai kepadanya
Pasuruan, 10 April 2014
pada pukul 12.27 pm
Selasa, 25 Maret 2014
Saksi Mata
Hanya singkat cerita dari cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma, yang sedikit saya rombak.
Ia mengendap.
Seolah ia melihat rahasia besar, tak perlu disebutkan apa.
Namun jika terbongkar sebuah masalah besar bagi mereka.
Ia tertangkap oleh mata mereka.
Ia berlari mencoba meloloskan diri.
Namun tenaganya tak m,encukupi, ia terkejar. Tertangkap.
Dengan (sebenarnya tidak) terpaksa, mereka mengambil apa
yang telah ia mengambil saksi dari apa yang mereka lakukan.
Mereka mencongkel matanya.
Yakin telah mati, mereka meninggalkannya tergeletak.
Namun mereka tak tau bahwa hanya gambar saja yang ditangkap
dengan mata.
Dan kekuatan telah membangkitkannya, mencoba mengungkap apa
yang ia telah saksikan.
Ia berjalan, dengan cucuran darah dari kelopak matanya.
Ia mencari keadilan yang biasa ditentukan oleh ketukan palu.
Pengadilan.
Terungkap semua kejahatan mereka, mereka pun ditembak mati.
Ia.
Darah kering masih membalut wajahnya, ketika ia tersenyum
dalam kematian sucinya.
Senin, 03 Februari 2014
Tuhan
Tuhan tidak menciptakan hamba yang selalu bersedih dan
berputus asa. Tuhan selalu menginginkan hambaNya yang selalu taat kepadaNya dan
bahagia dengan hidup yang telah diberikan. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan
yang benar-benar berat kepada hambaNya, karena Dia selalu menyediakan jalan
untuk keluar dari sebuah masalah. Jika kau mengutuk Tuhan atas kesialan yang
menimpamu, itu adalah kesalahan karena kau tidak tau apa-apa tentang apa yang
akan terjadi. Yang mengetahuinya hanyalah Tuhan, rencananya lebih baik daripada
sebuah terkaan hamba yang jenius sekalipun.
Tuhan menciptakan kau karena Dia sudah memiliki rencana. Sembari menunggu
terlaksananya rencananya itu kita sebagai hambaNya diberi kesempatan untuk
mendekatkan diri kepadanya. Mungkin saja Dia bisa merubah rencanya kepada kita
atas usaha kita. Jangan takut akan akhir kehidupan, karena kematian adalah hal
yang pasti. Sukar untuk ditebak memang, bagaimana kita mati kelak? Siapa yang
akan menemani kala kita mati kelak? Apa yang akan kita lakukan kala kita sudah
mati kelak? Akankah kita hanya tertidur pulas dibawah timbunan tanah? Bermain
dan bercengkrama bersama cacing? Seiring berjalannya waktu, raga kita hancur.
Lalu bagaimana? Sudahlah itu urusan nanti, jangan terlalu dipikirkan, atau kau
akan menjadi gila. Hal terpenting adalah selalu mendekatkan diri dengan Tuhan
yang menciptakan kehidupan. Entah bagaimana cara yang kau pergunakan, yang
pasti Tuhan tau apa yang ada di dalam hatimu, Dia selalu bisa membaca niatan
hambaNya. Percaayalah, Tuhan itu ada.
Tulisan Ketujuh "Sekedar Cerita 2"
Ingin sekali aku berteriak kepadamu bahwa aku adalah orang
yang mencintaimu dan tersakiti oleh sikapmu dulu. Ingin rasanya airmata ini
kutumpahkan saat itu juga, agar kau dapat melihat betapa rapuhnya hati seorang
gadis kecil yang pernah kau akui sebagai seorang yang kau sayangi ini.
Saat itu aku tak banyak berbicara kepaadamu, hanya obrolan kecil yang awalnya cukup canggung. Namun dengan menekan segala keraguan yang ada aku berusaha untuk membiasakan diri. Tak juga terpungkiri raut wajah gugupmu. Tertawalah dalam hati diriku ini. Duduk disampingmu, mendengar suaramu, bahkan menyentuh tanganmu. Tuhan, ini begitu nyata. Dia yang kucinta ada didepan mata, dia yang selalu menjadi alasan mengapa aku rapuh. Beberapa jam kuhabiskan waktu bersamamu, tak terasa kita harus berpisah. Menciptakan jarak kembali, dan kuharap kita dapat bertemu lagi. Kulambaikan tangan seraya jarak semakin menjauh dan tak kulihat lagi dirimu.
Di perjalan aku selalu mengingat setiap hal kecil yang baru saja kita alami. Sangat mengharukan. Terimakasih untuk hari itu. Mungkin itu adalah kado terindah di bulan April untukku. Satu hari sebelum 30 April, ulangtahunku. Kau mulai aneh, marah tidak karuan, menciptakan emosi yang begitu meluap. Apa yang terjadi? Aku berpikir bahwa ini hanya trikmu untuk memberikan kejutan di hari ulangtahunku besok. Kutunggu jam bergerak kearah 12, namun tak kutemukan kemunculanmu di layar ponselku. Hanya beberapa teman sepermainanku, dan aku mulai putus asa. Ternyata kau benar-benar marah.
Namun tidak, tepat pukul 04.00 ponselku berbunyi, satu panggilan dari nomer yang disembunyikan. Aku malas mengangkatnya, karena mataku masih terpejam. Dengan berat hati aku angkat jua panggilan masuk itu, tidak ada suara. Ah orang iseng, kututup panggilan itu. Beberapa saat kemudian namamu muncul, segera kuangkat lagi, dan benar saja kau meminta maaf atas kemarahan yang tak berasalanmu itu, kau berkata bahwa itu memang sudah direncanakan. Pagi itu kau mengingatkanku akan pertama kalinya kau bilang bahwa kau menyayangiku, dank kau lakukan lagi saat itu. Sungguh aku sangat bahagia, namun tak bisa kupungkiri bahwa keraguan yang besar juga bersarang di hati ini. Permintaanmu untuk kembali. Aku takut kau akan meyakitiku lagi, aku terlalu takut lebih banyak air mata yang akan jatuh, aku takut. Kau meyakinkanku bahwa kita akan memulai yang baru, dan kesalahan yang lalu akan menjadi pelajaran bagimu. Pagi itu, kita kembali seperti dulu. Kembali tepat disaat 16 tahunku.
Hari-hari tak pernah sepi lagi, kau hadir kembali dengan segenap perasaan yang kau miliki.
Namun benar, hal itu tak bertahan lama. Kau mulai sering menghilang dan tak pernah ada kabar. Aku yang mulai terbiasa ini pun jarang menanyakan kemana dirimu pergi. Waktu terus berjalan dank au masih sama, aku geram akan tindakanmu yang dapat menghubungi orang lain sementara aku? Aku kau acuhkan seperti tak pernah ada. Aku ingin menanyakan kejelasan kepadamu, tapi aku sudah tau respon apa yang akan kau berikan nantinya. Kau pikir aku ini apa? Aku punya hati, dan hatiku ini masih memiliki perasaan. Pikiran buruk mulai menyelimuti, prasangka demi prasangka muncul. Bukan aku yang menginginkan hal ini, tapi sikapmu yang tak pasti. Aku selalu menerka-nerka salah dan dosa apa yang kulakukan padamu? Tak kunjung kutemukan jawaban, kutanyakan kepamu namun kau kembalikan semua pertanyaan itu kepadaku.
Aku mulai merasa keputusanku ini salah. Menerimu kembali seharusnya tidak perlu. Tingkahmu semakin menjadi dan kau seolah ingin menjatuhkan harga diriku. Apa sebenarnya maumu? Dengan seenaknya kau mempermainkan perasaan yang sudah beberapa kali ini kau sakiti. Lupakah kau akan segala ucapanmu sendiri? Atau kau tiba-tiba menderita amnesia? Tindakanmu hanya diam seribu bahasa. Kau pasti tau aku menjerit disini, tapi apa yang kudapat? Kebisuan, ya kebisuan oleh orang yang telah meminta kembali kepadaku dan kini meninggalkanku dengan segala kepedihan dan harga diri yang terinjak.
Saat itu aku tak banyak berbicara kepaadamu, hanya obrolan kecil yang awalnya cukup canggung. Namun dengan menekan segala keraguan yang ada aku berusaha untuk membiasakan diri. Tak juga terpungkiri raut wajah gugupmu. Tertawalah dalam hati diriku ini. Duduk disampingmu, mendengar suaramu, bahkan menyentuh tanganmu. Tuhan, ini begitu nyata. Dia yang kucinta ada didepan mata, dia yang selalu menjadi alasan mengapa aku rapuh. Beberapa jam kuhabiskan waktu bersamamu, tak terasa kita harus berpisah. Menciptakan jarak kembali, dan kuharap kita dapat bertemu lagi. Kulambaikan tangan seraya jarak semakin menjauh dan tak kulihat lagi dirimu.
Di perjalan aku selalu mengingat setiap hal kecil yang baru saja kita alami. Sangat mengharukan. Terimakasih untuk hari itu. Mungkin itu adalah kado terindah di bulan April untukku. Satu hari sebelum 30 April, ulangtahunku. Kau mulai aneh, marah tidak karuan, menciptakan emosi yang begitu meluap. Apa yang terjadi? Aku berpikir bahwa ini hanya trikmu untuk memberikan kejutan di hari ulangtahunku besok. Kutunggu jam bergerak kearah 12, namun tak kutemukan kemunculanmu di layar ponselku. Hanya beberapa teman sepermainanku, dan aku mulai putus asa. Ternyata kau benar-benar marah.
Namun tidak, tepat pukul 04.00 ponselku berbunyi, satu panggilan dari nomer yang disembunyikan. Aku malas mengangkatnya, karena mataku masih terpejam. Dengan berat hati aku angkat jua panggilan masuk itu, tidak ada suara. Ah orang iseng, kututup panggilan itu. Beberapa saat kemudian namamu muncul, segera kuangkat lagi, dan benar saja kau meminta maaf atas kemarahan yang tak berasalanmu itu, kau berkata bahwa itu memang sudah direncanakan. Pagi itu kau mengingatkanku akan pertama kalinya kau bilang bahwa kau menyayangiku, dank kau lakukan lagi saat itu. Sungguh aku sangat bahagia, namun tak bisa kupungkiri bahwa keraguan yang besar juga bersarang di hati ini. Permintaanmu untuk kembali. Aku takut kau akan meyakitiku lagi, aku terlalu takut lebih banyak air mata yang akan jatuh, aku takut. Kau meyakinkanku bahwa kita akan memulai yang baru, dan kesalahan yang lalu akan menjadi pelajaran bagimu. Pagi itu, kita kembali seperti dulu. Kembali tepat disaat 16 tahunku.
Hari-hari tak pernah sepi lagi, kau hadir kembali dengan segenap perasaan yang kau miliki.
Namun benar, hal itu tak bertahan lama. Kau mulai sering menghilang dan tak pernah ada kabar. Aku yang mulai terbiasa ini pun jarang menanyakan kemana dirimu pergi. Waktu terus berjalan dank au masih sama, aku geram akan tindakanmu yang dapat menghubungi orang lain sementara aku? Aku kau acuhkan seperti tak pernah ada. Aku ingin menanyakan kejelasan kepadamu, tapi aku sudah tau respon apa yang akan kau berikan nantinya. Kau pikir aku ini apa? Aku punya hati, dan hatiku ini masih memiliki perasaan. Pikiran buruk mulai menyelimuti, prasangka demi prasangka muncul. Bukan aku yang menginginkan hal ini, tapi sikapmu yang tak pasti. Aku selalu menerka-nerka salah dan dosa apa yang kulakukan padamu? Tak kunjung kutemukan jawaban, kutanyakan kepamu namun kau kembalikan semua pertanyaan itu kepadaku.
Aku mulai merasa keputusanku ini salah. Menerimu kembali seharusnya tidak perlu. Tingkahmu semakin menjadi dan kau seolah ingin menjatuhkan harga diriku. Apa sebenarnya maumu? Dengan seenaknya kau mempermainkan perasaan yang sudah beberapa kali ini kau sakiti. Lupakah kau akan segala ucapanmu sendiri? Atau kau tiba-tiba menderita amnesia? Tindakanmu hanya diam seribu bahasa. Kau pasti tau aku menjerit disini, tapi apa yang kudapat? Kebisuan, ya kebisuan oleh orang yang telah meminta kembali kepadaku dan kini meninggalkanku dengan segala kepedihan dan harga diri yang terinjak.
Langganan:
Postingan (Atom)